Ketika Produk Sepatu Sandal Sukaramai kian Sepi

Masa keemasan sepatu dan sandal buatan Ajo Sukaramai (AS) Medan saat ini semakin pudar. Padahal di era tahun 1998 lalu, produk kerajinan tangan sandal sepatu buatan AS ini ternyata pernah merambah pasar Asia tenggara, yaitu Malaysia dan beberapa kepulauan di tanah air.

Namun karena beberapa kendala dari dalam serta ditambah persaingan perdagangan global yang ditandai dengan membanjirnya produk China serta, sehingga masa keemasan pengrajin sepatu yang sebagian besarnya di sekitar kawasan Jalan Bromo itu kian meredup.

Bahkan menurut pengakuan pengrajinnnya, nasib Usaha Kecil Menengah (UKM) sepatu dan sandal tersebut saat ini bagaikan pepatah ‘Bak Krokot Tumbuh di Batu’ atau Hidup segan matipun tak mau.

Semakin mahalnya ongkos produksi yang harus bersaing dengan produk luar semakin menjepit para pengrajin. Masalah lain, saat ini semakin sedikit pula tenaga kerja yang tersedia, sebab untuk menjadikan sepatu dengan kualitas terbaik itu dibutuhkan keuletan, ketekunan dan kerajinan pekerja, sedangkan di saat sekarang ini banyak tenaga potensial yang lebih senang berpikir instan dalam bekerja dan mengutamakan bantuan mesin.

Melihat penomena miris itu. Adalah Universitas Dian Nusantara (Udnas) yang lokasinya bersebelahan dengan sentra pembuatan produk AS di Jalan Bromo itu mencoba memberikan sepirit baru dan diharapkan memberikan semangat baru kepada pengrajin agar dapat memasarkan produk dan berkembang lebih baik.

“Udnas akan melakukan pembinaan para pengusaha yang jumlahnya puluhan dalam bentuk akses pemasaran, juga lampiran keuangan dan pengangkatan SDM melalui pelatihan terorganisir dan terstruktur,” kata Rektor Udnas Prof H Aldwin Surya di ruang kerjanya, Jumat lalu.

Rektor Udnas mengatakan, kita konsern karena bersamaan dengan dipercayakannya Udnas sebagai Universitas Pembina Program Kewirausahaan Mahasiswa kepada 6 PTS di Sumut, sehingga pembinaan itu diharapkan akan lebih baik dan berkesinambungan terutama yang tergabung dalam Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Sepatu (Kopinkra).

Dikatakan, produk sepatu dan sandal AS punya potensi yang baik, namun selalu kalah dengan produk luar Sumut, seperti Cibaduyut yang dianggap sebagai sentra sepatu di Indonesia. “Padahal buatan AS ini ternyata tidak kalah dengan produk lain, karena itu harus mendapatkan pembinaan agar dapat bersaing di pasar global,” ucapnya.

Menurut Prof Aldwin yang didampingi Ketua Yayasan Dian Asra, Yudhi Asta Afriza Sukarsih SE MM Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Udnas, Sunday Ade, UKM ini harus ditingkatkan.

Kalau Bandung punya Cibaduyut, kenapa kita kalau pakai Ajo Sukaramai kesannya murahan? Inilah yang harus diubah, ungkapnya dan menjelaskan bahkan Wapres RI Jusuf Kalla pun pernah menggunakan sandal buatan AS ini.

Perhatian Pemerintah

Dia menambahkan, pemerintah Kota Medan harus memfokuskan perhatiannya ke UKM di Sukaramai. Sebab di negara maju, 80 persen pemasukan negara diperoleh dari pengusaha skala kecil. Ada 45 juta skala mikro di Indonesia yang dapat dioptimalkan yang akan menjadi devisa luar biasa bagi negara.

“Dibanding pelaku usaha besar, UKM lebih tertib dalam pelunasan kewajiaban seperti pinjaman usaha.
Kita akan sampaikan ke Pemko Medan agar ini patut diberdayakan karena kita dikenal sebagai daerah pengrajin sepatu dan sandal dalam sekala kecil. Dikatakan Aldwin, untuk mendapatkan hal yang besar, semua dimulai dari hal yang kecil.

Sementara Ali Aswan, Ketua Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan Sepatu (Kopinkra) menjelaskan, saat ini pengrajin semakin banyak yang mengalihkan usahanya dari pengrajin sepatu kepada usaha yang lain. “Bahkan sudah ada 10 persen dari total kurang lebih 60 pengrajin sepatu dan sandal yang beralih profesi, karena usaha ini mulai redup,” akunya.

Mereka mengaku untuk membuat sepatu kulit dan sandal plastik harus membeli bahan baku dari Jakarta yang mempengaruhi harga jadi. “Di sini (Sumut) kita hanya punya bahan baku buat tapaknya, lainnya harus beli di luar dengan harga yang terus melonjak, belum lagi tarif listrik naik,” jelasnya.

Kata Ali, kendala lainnya yang dirasa adalah minimnya pengrajin muda yang mau dilatih. Sehingga momen besar seperti lebaran atau lainnya, mereka yang kebanjiran pesanan harus menolak, karena tidak ada orang yang mengerjakan. “Saat ini sangat sulit mencari kader pengrajin, bukan karena tidak ada pengangguran, namun yang mau jadi pengrajin tidak ada. Kalau dulu jadi pengrajin dua bulan bisa menghidupi keluarga setahun, sekarang hanya untuk dua bulan ke depan,”bebernya.

Walaupun kualitas yang dihasilkan pengrajin cukup baik dan diterima pasar, namun karena pengrajin selalu menghadapi persoalan sehingga kadang kualitas tergantung pembeli, ucapnya.

Pada kesempatan itu Ali berharap universitas seperti Udnas terus mau melakukan pelatihan agar banyak pengrajin muda yang bisa menambah SDM.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua I Bidang Pemasaran Nasri Pilli dan berharap pemerintah memberikan bantuan peralatan membuat sepatu. “Misalnya memberikan bantuan mesin tarik, karena ini akan menolong kita untuk mengatasi persoalan keterbatasan SDM kita yang kurang,” ujar Nasri.

Sumber: analisadaily.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s