Raup Ratusan Juta dari Sepatu Kayu

Ade Eva Fatna tidak mempunyai latar belakang desain, tetapi bakat membawanya pada kesuksesan. Sedikitnya 3.000 pasang sepatu berhasil dijual.

Tanpa dibantu siapa pun, ia memulai usaha ini pada tahun 2002. Ketika itu Ade masih menjadi karyawan di Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Sewaktu masih menjadi karyawan, Ade memang sudah senang menggambar berbagai desain aksesori wanita. Sebenarnya ia sama sekali tidak mempunyai latar belakang desain atau arsitektur. “Kalau dibilang bakat, mungkin iya,” kata Ade.

Tetapi yang jelas, semua mengalir begitu saja. Setiap kali memegang pensil, ia pasti langsung menggambar. Ade selalu senang membuat sketsa-sketsa. Mulai dari anting, tempat pensil, sandal, sampai kelom (sepatu atau sendal dari kayu).

Pada awalnya Ade hanya ingin mewujudkan gambar-gambar untuk ia pakai sendiri. Sekadar ingin tahu sampai di mana kemampuannya berkreasi. Setelah jadi, ia pun memperlihatkan produk-produk ini pada teman-teman di kantor. Tak disangka mereka suka. Pesanan mulai berdatangan meski belum banyak. Tetapi, itu pun sudah dapat membuat Ade bersemangat membuat berbagai desain lain.

“Saya pun mulai berpikir untuk menjadikannya bisnis kecil-kecilan,” kenang Ade.

Karena masih bekerja di kantor, Ade selalu mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari membuat desain sampai mewujudkannya menjadi suatu produk. “Tapi saat itu saya belum membuat sepatu. Hanya aksesori dan barang-barang kecil pendukung alat tulis kantor,” jelas Ade.

Meski mengaku masih skala kecil, Ade sudah menjual kerajinannya dalam jumlah ratusan. Akhirnya lama-lama ia kewalahan sendiri. Ia pun lalu memutuskan untuk berhenti bekerja. Setelah berhenti, barulah Ade fokus memikirkan bagaimana memanfaatkan bakat ini menjadi suatu usaha yang lebih besar.

Memilih alas kayu
Membuat sepatu sebenarnya baru tebersit di benak Ade pada tahun 2006. Sebelumnya, Ade hanya berpikir untuk membuat barang-barang kecil tetapi sangat diperlukan, khususnya untuk wanita. “Semua wanita pasti suka belanja. Jadi, tepat rasanya kalau saya menciptakan produk yang sering dipakai wanita. Pangsa pasarnya sangat besar,” ungkap Ade, yang memberi nama produknya merek D&A.

Setelah memutuskan untuk menggeluti bisnis ini dengan serius, Ade mulai mencari tahu produk-produk apa yang sedang digemari wanita. Akhirnya, Ade pun membuat sepatu karena itu juga bagian dalam kehidupan wanita.

Ketika mulai membuat sepatu, ia banyak mencoba menggunakan bahan-bahan yang sekiranya dapat diwujudkan menjadi sebuah sepatu. Mulanya Ade membuat sepatu-sepatu berbahan kain. Ide ini muncul karena Ade sebelumnya membuat aksesori-aksesori bunga berbahan dasar kain. Lalu kain-kain tersebut mulai diaplikasikan ke kelom dan sepatu. Setelah itu Ade pun mencoba bahan-bahan lain seperti kulit, tetapi itu baru bagian atas sepatu. Untuk bagian bawahnya, Ade mulai mencari bahan selain plastik atau besi yang bisa dipakai untuk membuat alas sepatu.

Karena senang dengan inovasi, Ade berpikir untuk membuat bagian bawah sepatu dengan bahan kayu. Ade melihat bahan seperti ini belum banyak digunakan meski bakiak yang terbuat dari kayu sudah ada sejak dulu. Mendengar kata bakiak, pasti orang langsung teringat akan beratnya. Namun, menurut Ade, jika dapat memilih jenis yang tepat, bakiak tidak akan seberat yang dibayangkan orang. Kayu mahoni dan albasia yang Ade dapatkan dari Tasikmalaya merupakan kayu terbaik untuk dijadikan sepatu. Ada juga beberapa kayu impor, tetapi tidak banyak.

Sayangnya, saat mulai menjual sepatu kayu, Ade melihat tanggapan pasar kurang baik. Hal itu lebih banyak disebabkan pandangan orang yang menganggap sepatu kayu itu berat. Selain itu, tapak sepatu yang terbuat dari kayu memang tidak lentur. Begitulah jawaban dari pertanyaan yang Ade ajukan kepada para pelanggan yang telah membeli sepatu kayunya.

“Ini masalah kebiasaan saja. Setelah saya meyakinkan kalau sepatu kayu enak dipakai, banyak pelanggan yang akhirnya terbiasa,” jelas Ade. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa banyak pelanggan orang asing yang justru senang memakai sepatu dari kayu. Menurut mereka, warnanya lebih alami.

Terus berkembang
Setelah tiga tahun berlalu, bisnis sepatu kayu Ade mengalami perkembangan yang sangat baik. Karena kayu mudah dibentuk, Ade dapat membuat model apa saja yang ia mau. Model yang Ade kreasikan juga mudah diwujudkan karena material yang ia butuhkan tidak sulit dicari. Selain itu, setelah sepatu kayu ini berhasil merambah dunia fashion, Ade semakin dapat mewujudkan ide-idenya yang paling unik. Sekadar informasi, bahan sepatu yang diambil dari bijih plastik atau besi tidak mudah dibentuk. Ade juga membutuhkan pabrik kalau ingin membuat sepatu dari bahan-bahan tersebut.

Untuk kisaran harga, Ade mematok mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 1.000.000. Harga ditentukan dari bahan baku dan desain. Untuk penjualan, ternyata Ade sudah berhasil memasarkan sepatu-sepatu kayunya sampai Hawaii, Amerika Serikat. Ade mengatakan, para pengusaha dari kepulauan di Pasifik itu mendengar usaha Ade dari mulut ke mulut.

“Koneksi memang penting karena dari situlah kita mungkin akan mendapatkan suatu proyek besar,” katanya. Ia sendiri belum pernah bertemu dengan para pengusaha Hawaii itu. Semua hanya sebatas surat elektronik, tetapi jual-beli selalu berjalan lancar.

Di Indonesia, pelanggan Ade tersebar mulai dari Bangka, Balikpapan, Bandung, Makassar, Bali, Medan, dan Yogyakarta. Untuk mendapatkan pelanggan dari banyak kota, Ade melakukan berbagai promosi di pameran-pameran. “Paling sering di Inacraft,” kata Ade, yang penjualan seluruh produknya sekarang sudah mencapai 3.000 pasang sepatu dan kelom.

Pernah juga ia diundang untuk ikut pameran di luar negeri. Yang mengajak biasanya perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina. Untuk perusahaan yang satu itu, Ade merasa sudah diberi banyak bantuan. “Misi utama mereka memang memperkenalkan produk lokal di luar negeri. Setelah itu baru bisnis,” jelasnya.


Sumber, Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s